Anjuran Mempelopori Kebaikan
Anjuran Mempelopori Kebaikan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minnah ‘Alim Ar-Raqib. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 26 Rabiul Akhir 1448 H / 06 Oktober 2026 M.
Kajian Hadtis Tentang Anjuran Mempelopori Kebaikan
Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:
كُنَّا فِي صَدْرِ النَّهَارِ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَجَاءَهُ قَوْمٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ وَالعَبَاءِ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ، بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ، فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا رَأَى مَا بِهِمْ مِنَ الفَاقَةِ، فَدَخَلَ، ثُمَّ خَرَجَ، فَأَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ، فَصَلَّى، ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ}، إِلَى آخِرِ الآيَةِ
“Kami pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada awal siang (pagi/menjelang siang). Lalu datanglah kepada beliau sekelompok orang yang telanjang (hanya mengenakan sedikit pakaian), menyarungkan kain bergaris dan mantel (yang dilubangi bagian tengahnya untuk kepala), serta menyandang pedang. Mayoritas mereka berasal dari kabilah Mudhar, bahkan seluruhnya berasal dari kabilah Mudhar.
Maka wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berubah (menjadi sedih/pucat) ketika melihat kemiskinan dan kesusahan yang menimpa mereka. Beliau lalu masuk (ke rumahnya) kemudian keluar lagi, lantas memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah. Setelah melaksanakan shalat, beliau berkhotbah:
‘Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menyebut) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (jagalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.’
Beliau juga membacakan firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat ke-18 sebagai pengingat hari kiamat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
تَصَدَّقَ رجلٌ من دينارِه، من درهمِه، من ثوبِه، من صاعِ بُرِّه، من صاعِ تَمره، -حتى قال:- ولو بِشِقِّ تمرة
‘Hendaklah seseorang bersedekah dengan dinarnya, dengan dirhamnya, dengan pakaiannya, dengan satu sha’ gandumnya, dengan satu sha’ kurmanya—bahkan beliau bersabda:—meskipun hanya dengan sepotong kurma.’
Lalu datanglah seorang laki-laki dari kaum Anshar membawa sekantong/sebundel uang yang telapak tangannya hampir tidak kuat menggenggamnya, bahkan memang sudah tidak kuat memegangnya. Kemudian orang-orang pun berbondong-bondong (turut bersedekah) hingga aku melihat dua tumpukan besar dari makanan dan pakaian, sampai-sampai aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berseri-seri gembira seakan-akan berkilau bagaikan emas (yang bercahaya). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
‘Barangsiapa yang mencontohkan/memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahala amalan tersebut dan pahala orang-orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mencontohkan/memulai suatu perbuatan yang buruk dalam Islam, maka ditimpakan atasnya dosa perbuatan tersebut dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.`” (HR. Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan yang lainnya)
Profil Singkat Jarir bin Abdillah
Jarir bin Abdillah Al-Bajali adalah seorang pemimpin yang mulia dan berwajah tampan. Beliau memiliki kuniah Abu Amr, meski sebagian ulama menyebut Abu Abdillah. Beliau termasuk sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terkemuka. Imam Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa beliau memiliki ketampanan yang sempurna. Jarir bin Abdillah sendiri menuturkan kemuliaan perlakuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepadanya.
مَا رَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي
“Tidak pernah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihatku melainkan beliau tersenyum kepadaku.”
“Akan muncul dari pintu ini seorang lelaki yang termasuk orang terbaik dari Yaman. Pada wajahnya terdapat tanda ketampanan seakan-akan malaikat.” (HR. Al-Humaidi)
Para ulama mencatat bahwa Jarir bin Abdillah memimpin kabilah Bajilah di selatan Thaif. Ketampanan dan keelokan perawakannya membuat Umar bin Khattab menyebutnya sebagai Yusuf dari umat ini, merujuk pada ketampanan Nabi Yusuf ‘Alaihissalam.
Dalam catatan sejarah Perang Qadasiyah, Jarir bin Abdillah berada di posisi sebelah kanan panglima perang, Sa’ad bin Abi Waqqas. Menurut Imam Ibnu Asakir, Jarir sempat tinggal di Kufah sebelum berpindah ke Qarqisiya. Beliau juga pernah diutus oleh Ali bin Abi Thalib untuk menghadap Muawiyah. Beliau wafat pada tahun 51 Hijriah, atau menurut sebagian ulama tahun 54 Hijriah, di Qarqisiya dekat Sungai Efrat di wilayah Deir ez-Zor, Suriah.
Kedatangan Kaum yang Memprihatinkan
Hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdillah ini mengisahkan kedatangan sekelompok orang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kondisi sangat minim pakaian. Sebagian besar tubuh mereka terbuka dan hanya menutup bagian aurat tertentu. Mereka mengenakan pakaian bergaris hitam-putih dari wol yang menyerupai corak kulit macan, atau mengenakan aba’ah, yaitu selembar kain yang dilubangi bagian tengahnya untuk dikenakan. Melihat kondisi mereka yang serba kekurangan, raut wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berubah karena rasa iba.
Kegembiraan Rasulullah dan Makna Sunnah Hasanah
Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan khotbah yang menganjurkan sedekah, kaum muslimin berbondong-bondong membawa bantuan hingga terkumpul dua tumpukan besar, yaitu makanan dan pakaian. Melihat pemandangan tersebut, wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berseri-seri dan memancarkan cahaya kegembiraan atas kepedulian para sahabat terhadap orang-orang yang membutuhkan.
“Barang siapa mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya. Barang siapa mencontohkan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, ia akan memikul dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim)
Makna memulai sunnah yang baik bukanlah membuat bid’ah dalam agama, melainkan memelopori suatu amalan yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla serta memiliki landasan dari pokok-pokok syariat. Orang yang pertama kali menghidupkan dan menyebarkan amalan syar’i tersebut menjadi teladan bagi orang lain sehingga berhak memperoleh pahala amalnya sendiri beserta pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka.
Sebaliknya, memulai perbuatan yang buruk berarti melakukan perbuatan tercela yang bertentangan dengan syariat dan tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang menjadi pelopor dalam kemaksiatan atau kebiasaan buruk akan menanggung dosa perbuatannya sendiri ditambah seluruh dosa orang-orang yang menirunya.
Penerapan hadits ini terlihat jelas pada tindakan seorang sahabat dari kaum Anshar yang datang membawa sekantong perak berat hingga tangannya hampir tidak kuat mengangkatnya. Tindakan dermawan tersebut langsung mendorong para sahabat lain berlomba-lomba membawa sedekah hingga terkumpul pakaian dan makanan dalam jumlah melimpah.
Pelajaran Berharga dari Hadits
Hadits ini memuat beberapa faedah penting. Pertama, anjuran untuk mengumpulkan kaum muslimin demi urusan penting, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan Bilal menyerukan adzan guna menghimpun para sahabat untuk mendengarkan nasihat, perintah kebajikan, dan peringatan dari keburukan.
Kedua, kisah tersebut menunjukkan perintah untuk bersegera menaati seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa menunda-nunda amal kebaikan.
Para sahabat langsung bersegera melaksanakan perintah ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan nasihat. Kisah tersebut menunjukkan anjuran menginfakkan harta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala demi menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Peristiwa ini juga menggambarkan kasih sayang antarkaum muslimin yang saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2)
Hadits tersebut juga menganjurkan penampakan rasa gembira ketika kaum muslimin memperoleh kebaikan.
Seseorang dianjurkan memulai kebaikan dan menghidupkan teladan yang baik. Jika teladan tersebut diikuti banyak orang, pemrakarsa akan memperoleh pahala amalnya sekaligus pahala orang-orang yang mengikutinya.
Peringatan dari Memulai Keburukan dan Bukan Dalil Bid’ah
Hadits ini memberikan peringatan keras agar tidak mengawali perkara batil dan buruk. Pelaku pertama yang ditiru oleh orang lain akan memikul dosanya sendiri beserta dosa seluruh pengikutnya. Pelipatgandaan balasan, baik pahala maupun dosa, terjadi karena adanya keteladanan yang diikuti secara berulang.
Hadits ini sama sekali bukan dalil untuk membuat bid’ah dalam agama, karena agama Islam telah disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim)
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Mari turut membagikan link download kajian tentang “Anjuran Mempelopori Kebaikan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56597-anjuran-mempelopori-kebaikan/